Senin, 15 Desember 2014

GAME OVER

Beberapa tahun lalu seorang perempuan mulai mengenal sebuah perasaan yang aneh. Dia hanya seorang gadis remaja. Waktu itu tujuannya pasti dan langkahnya pun pasti. Setiap hari dari pagi hingga malam tidak sedetik pun dia melupakan tujuannya. Pemikirannya fokus dengan sempurna pada hal yang harus dicapainya.

Setiap hari yang dilaluinya selalu sama dengan cara dan tujuan yang sama. Suatu hari mungkin dia mulai bosan dengan langkah yang diayunkannya. Fokusnya mulai sedikit buyar ketika ada seorang laki-laki disana. Seorang laki-laki yang baginya begitu lucu, hangat, rajin, baik, dan memesona. Hati perempuan itu sedikit demi sedikit mengalahkan pikirannya. Setiap ada kesempatan dia meluangkan waktu untuk menatap laki-laki itu walau hanya sedetik dua detik. Begitu bahagianya dia hanya dengan menatap saja.  Seakan-akan laki-laki itu menjadi obat atas kejenuhannya.

Perempuan itu masih menjalani hari-harinya seperti biasa, hanya saja sekarang rutinitasnya sedikit bertambah dengan menyempat-nyempatkan untuk sekadar memperhatikan laki-laki itu. Tibalah hari dimana hati perempuan itu benar-benar dicuri. Seperti biasa dia selalu harus menunggu kendaraan umum untuk pergi ke tempat dia akan mengusahakan tujuannya dua tahun belakangan. Tapi, pagi itu berbeda. Rasanya sepi sekali, tidak satu pun kendaraan yang lewat. Dia tidak pergi terlalu cepat dan ini bukan pagi mendung yang memaksa semua orang berdiam diri di rumah. Ini hanya pagi yang biasa.

Perempuan itu mulai bosan menunggu. Dalam hati dia berharap ada orang yang bisa memberi tumpangan. Ketika sedang asik berharap laki-laki itu berhenti tepat di hadapannya lalu mengajak pergi bersama. Tempat yang mereka tuju tidak begitu jauh, tapi sesungguhnya perempuan itu berharap tempat itu pindah sejauh mungkin. Tidak banyak hal yang terjadi selama mereka bersama dalam waktu singkat itu, hanya saja hati perempuan itu mulai benar-benar berdebar.

Semenjak hari itu, perempuan itu tidak lagi hanya ingin memperhatikan, hatinya mulai rakus. Dia tidak ingin hanya menatap atau berbicara dari kejauhan. Perempuan itu ingin memiliki. Perasaannya semakin egois.

Beberapa waktu berlalu mereka menjadi dekat. Keegoisan perempuan itu pun semakin tumbuh. Sampai akhirnya dia sadar perasaannya tidak terbalas. Sedih, kecewa, marah, dan benci. Mungkin itu semua adalah buah dari keegoisannya. Perempuan itu memutuskan untuk melupakan dan berpikir mungkin itu hanya cinta monyet. Lagi pula perempuan itu hanya seorang gadis remaja saat ini semua terjadi.

Suatu hari dia berkenalan dengan perasaan aneh lainnya. Sangat jauh berbeda dari perasaan yang sebelumnya terjadi. Dia diberi perhatian, kasih sayang dan kesabaran oleh seorang laki-laki yang selalu ada untuknya. Bodohnya, perempuan itu justru memutuskan untuk menjalani suatu hubungan dengan laki-laki ini pada hal di hatinya masih jelas-jelas di tempati oleh laki-laki yang dulu selalu di tatapnya. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dia menjalani hubungan yang hanya dijadikannya pelampiasan. Sekarang perempuan itu tidak hanya egois, tapi dia juga berubah menjadi jahat hanya karena perasaan aneh itu.

Tidak heran bila pada akhirnya laki-laki baik itu hanya tersakiti oleh tingkah perempuan itu. Mereka berpisah. Perempuan itu merasa sepi. Laki-laki yang selalu ada itu pergi. Perempuan itu menyesal, bodoh sekali dia menyakiti laki-laki yang selalu ada hanya karena dia terikat dengan masa lalu bersama laki-laki yang mungkin tidak pernah menganggapnya ada. Dia menyesal dan menangis.

Perempuan itu sadar ternyata sulit sekali melupakan seseorang yang biasanya ada. Dia menjadi terbiasa menangis. Dia mulai berpikir, kemana pikirannya dulu? Kenapa sekarang hatinya sangat menguasai dirinya bahkan bertindak semena-mena terhadap hidupnya? Perempuan itu ternyata lemah sekali dalam masalah hati.

Dan, lagi-lagi laki-laki itu kembali muncul, laki-laki yang dulu membuyarkan pikirannya. Perempuan itu tidak marah bahkan setelah lama dia menghilang begitu saja. Perempuan itu justru bahagia. Perempuan itu memang bodoh. Mereka kembali dekat lalu jauh. Dekat dan lalu jauh. Selalu begitu. Laki-laki itu hanya datang dan pergi, datang lalu pergi. Perempuan itu tidak marah. Dia hanya merasa sakit.

Tapi, kini dia benar-benar merasa lelah dengan tingkah laki-laki itu yang datang dan pergi seenaknya. Mungkin ini sudah lebih dari tiga tahun. Mereka kembali dekat. Perasaan perempuan itu masih sama dengan saat pertama kali dia mulai menatap laki-laki itu. Hanya saja, kini perempuan itu tidak lagi egois. Baginya sekarang, ini bukan lagi cinta monyet yang harus memiliki. Dia sadar perasaan ini tidak hanya bicara tentang dirinya dan laki-laki itu saja. Perasaan ini menyangkut banyak hal. Ada komitmen, penerimaan apa adanya, keyakinan, keluarga, dan Tuhan di dalamnya. Dia tahu semua hal itu harus ada sebelum dia benar-benar menyetujui keberadaan perasaan itu dan semua hal itu harus benar-benar dipahaminya terlebih dahulu.

Sikap laki-laki itu yang selalu datang dan kemudian pergi menyadarkan perempuan itu bahwa mungkin saja perasaan ini hanya sebuah permainan yang harus segera diakhiri. Sulit memang membiarkan seseorang pergi, tapi bisa. Perempuan itu akhirnya memutuskan dan berusaha menjalani kepergiannya dengan sebaik mungkin.


Kamis, 04 Desember 2014

Hanya lewat sebuah tulisan ini semua bisa tersampaikan. Sekalipun orang itu tidak langsung mendengarnya atau sekalipun orang itu tidak mau mengerti dan percaya, atau bahkan sekalipun orang itu tidak pernah membaca tulisan ini, yang jelas disini semuanya akan tertuang. 

Aku serius, sekalipun ku sampaikan dengan gaya bercanda, semua itu serius, selalu serius. Tidak ada kata “main-main” dalam hal perasaan.

Memang ini sulit dimengerti. Bahkan aku sendiri tidak tahu harus menjelaskannya dengan cara bagaimana, yang jelas, jika bisa ku tolak semua ini maka akan ku tolak, jika bisa aku lari dari semua ini maka aku akan lari, bahkan jika bisa aku tidak mengenalmu maka aku akan lebih memilih untuk tidak mengenalmu. Lama, sangat lama semua ini mengungkungku. Rasanya seperti tidak bebas melihat ke arah lain, pada hal aku ingin melihat banyak hal. Pandanganku selalu tertuju padamu. Selalu. Ini serius.

Dan aku tidak mengerti, sangat tidak mengerti bagaimana cara mengatasi yang aku sedang rasakan. Semakin lama bagiku ini seperti penyakit. Mengingatmu, memikirkanmu, merindukanmu, menghubungimu. Penyakit yang harus segera disembuhkan. Tapi, kemana harus ku cari obatnya? Apa memang benar ada obatnya?

Aku merasa seperti tersesat dalam perasaanku sendiri. Berulang kali ku tegaskan dalam hati bahwa sesungguhnya perasaan ini tidak boleh ada. Tapi dia ada. Berkali-kali ku cari jalan keluarnya agar perasaan ini hilang, lenyap seketika. Tapi tidak bisa, smapai sekarang tidak bisa. 

Maka, kali ini akan ku perjelas. Bagiku, kamu spesial, entah spesial dalam bentuk apa, yang jelas spesial. Titik. Lebih jelas lagi yang sebenarnya ingin ku sampaikan bahwa sebentar lagi, aku yakin ini hanya sebentar lagi, aku akan segera menemukan jalan yang tepat, aku tidak akan tersesat lagi seperti sekarang, dan kamu akan segera aku hilangkan dari tempat spesial itu, Pasti. Tentu saja kamu tahu alasanya tanpa harus lebih ku perjelas lagi.

Selasa, 10 Juni 2014

Bukan Pesta Biasa

Pesta Demokrasi

Semenjak pesta demokrasi berlangsung, kira-kira sudah berapa banyak dosa yang Anda perbuat? Bicara soal pesta, pastilah yang terpikir adalah sesuatu yang meriah, banyak makanan, hura-hura, dan lain sebagainya. Pesta demokrasi sepertinya tidak jauh berbeda dari pengertian pesta ulang tahun, pesta pernikahan, pesta rumah baru dan pesta-pesta lainnya.

Dalam pesta demokrasi pun ada kemeriahan. Ya, kemeriahan dosa. Tiap hari, tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detik ada saja berita yang muncul mengenai calon-calon pemimpin pemerintahan tersebut—entah berita itu fakta atau sekadar opini. Tapi yang jelas berita-berita itu meriah sekali terutama dalam media sosial—tempat Anda bebas berkata apa saja secara terbuka di hadapan publik. Dan yang lebih jelas lagi, berita-berita tersebut mudah sekali menyulut amarah orang lain yang bertentangan dengan apa yang disampaikan hingga akhirnya adu opini membuat pesta demokrasi ini semakin meriah.

Makanan? Jangan tanya soal makanan! Dalam pesta demokrasi sudah pasti ada banyak makanan. Ya, lagi-lagi makanan dosa. Opini yang bersifat negatif berserakan dimana-mana, berita yang menjelekkan orang lain dan belum pasti kebenarannya di-share dimana-mana, tuduhan, prasangka, bahkan cacian hingga makian menjadi makanan pokok dalam pesta demokrasi ini. Hati-hati, bila terlalu banyak memakan makanan seperti ini jangan-jangan perut Anda bisa menjadi buncit dosa nantinya.

Hal yang menjadikan pesta demokrasi ini lebih meriah lagi adalah ke-hura-hura-an. Sama seperti pesta lainnya, pesta demokrasi menjadikan pesertanya semakin larut, larut dan semakin larut di dalamnya. Lagi-lagi, semua ini akan bicara soal dosa. Pesta ini membuat lupa diri, lupa akan pepatah “mulutmu adalah harimaumu”, pesta ini membuat lupa akan salah satu nasehat Paulus di Efesus dalam kitab kaum Nasrani: ”Jangan ada perkataan yang kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun...” Pesta ini barangkali sudah sampai pada tahap memabukkan hingga perkataan-perkataan yang tidak penting berserak dimana-mana semenjak pesta ini berlangsung.

Tulisan ini muncul hanya atas keresahan diri sendiri :)


Minggu, 11 Mei 2014

Untukmu Mika yang Berulang Tahun dan Kak Fany yang Ku Rindukan

Kali ini tidak akan ku ingkari lagi, ya, aku memang sangat melankolis. Dua hari yang lalu salah satu orang yang terbaik dalam hidupku berulang tahun. Jujur aku bingung hendak merayakannya bagaimana. Biasanya kami bertiga, sekarang hanya berdua. Biasanya beberapa waktu sebelum sahabatku ini ulang tahun, aku dan seorang kakak sudah sibuk memikirkan kado, kue, dan segalanya yang bisa kami persiapkan. Selanjutnya, kami akan merayakan hari itu bertiga. Ya, hanya bertiga. Ulang tahun agape yang selalu eksklusif!

Walau hanya bertiga tapi rasanya begitu ramai dan ceria, seakan-akan kami tidak butuh orang lain untuk memeriahkan hari itu. Hanya kami bertiga dan itu sudah lebih dari cukup. Ketika satu dari kami pergi, rasanya aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Keramaian itu berubah sepi, kaku dan dingin. Pikirku, bagaimana caranya aku merayakan ulang tahun temanku ini bila kami tidak lengkap seperti biasanya.

Dengan sedih hati ku berikan kue kecil itu sebagai pertanda ulang tahunnya dua hari lebih lama. Entahlah, air mataku  menetes saja. Teringat tahun-tahun sebelumnya kami selalu bertiga. Suasana kali ini memang lebih ramai. Ada banyak orang disekeliling kami yang turut merayakannya, tapi aku justeru merasa lebih sepi. Tiba-tiba ketika hendak mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” aku teringat seorang kakak yang selama ini bersama kami, seorang kakak yang selama ini mempedulikan kami, seorang kakak sekaligus sahabat terbaik kami.


Aku rindu merayakan ulang tahun Mika bertiga seperti biasanya. Entah kapan kita bisa bertemu dan merayakannya bersama Kak Fany lagi. Selamat ulang tahun Mika...tetaplah menjadi Mika yang baik, selalu sabar dan pengertian, tetaplah menjadi sahabat terbaik agape. Semoga bertambah kebaikan di dalam dirimu dan berkurang segala yang tidak baik. Semoga Tuhan mendengarkan setiap pergumulan terutama dalam studimu. Tetap semangat dan ceria J







Kamis, 27 Maret 2014

Aku dan Mereka


―Haruskah aku mengerti dunia ketika dunia tidak mengerti aku?

Aku adalah seekor lebah bersayap kecil. Aku hidup di taman yang hijau dan berbunga banyak. Setiap hari aku melihat banyak manusia yang datang mengunjungi taman ini. Aku menyukai manusia. Senyum mereka dan tawa mereka adalah kebahagiaanku. Sesekali mereka mengambil maduku. Aku tahu bahwa mereka amat menyukai madu, maka aku berusaha menghasilkan banyak madu dengan caraku sendiri. Walau lelah tapi aku bahagia ketika melihat manusia tersenyum senang menikmati madu yang aku punya.

Suatu hari ketika aku sedang sibuk menghasilkan madu, tiba-tiba ada sekelompok manusia datang dan menangkapku. Mereka membawa banyak kertas yang berisi jadwal-jadwal pekerjaan. Aku bingung dan hanya bisa pasrah mengikut mereka. Aku dibawa ke dalam suatu ruangan yang dikelilingi kaca. Aku dikurung.

Aku pikir manusia adalah mahluk yang baik. Aku pikir tawa dan senyum mereka hanya akan lahir dari perbuatanku yang tulus dalam mengasihi mereka. Ternyata tulus saja tidak cukup untuk mereka. Tawa dan senyum itu membutuhkan sesuatu yang lebih dariku. Aku dipaksa bekerja, semakin banyak waktu yang aku habiskan untuk menyediakan madu semakin lebar tawa dan senyum mereka. Ketika aku meminta untuk beristirahat sejenak, tawa dan senyum itu hilang, menuduhku malas.

Tinggal disini dengan semua rutinitas dan tuntutan yang aku harus penuhi benar-benar membuatku lelah. Tidak bisakah aku menghasilkan madu dengan caraku sendiri? Haruskah manusia-manusia ini mengatur dan memperlakukan aku seperti robot? Tidakkah mereka lihat bahwa hatiku sudah berontak lelah?





Jumat, 13 Desember 2013

Ingin Sekali

Sebuah kisah sebahagia atau bahkan sepahit apapun pasti memiliki tempat tersendiri di hati kita. Sebuah kisah akan selalu berada pada tempatnya, takkan terhapus bahkan oleh waktu sekalipun. Kisah selalu menjadi hal yang abadi, ia tetap ada, akan selalu ada.

Aku tak tahu apakah dia masih mengenangku seperti waktu dulu, yang aku tahu bahwa saat malam itu melihatnya ada perasaan janggal di hatiku. Kediamannya, atau bolehkah aku sebut kebisuannya? Ya, aku pikir lebih baik aku sebut dia bisu agar berkurang sedikit rasa sakit di hati ini. Dia yang bisu itu masih saja bisu hingga kini. Ingin sekali menuntut sebuah penjelasan, tapi apalah gunanya.

Aku masih saja tak mengerti akan sikapnya ini. Kalau pun dia tidak berniat menjelaskan apa-apa, minimal jangan diamkan aku, banyak hal yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Kalau pun tak ingin membicarakan apa-apa, minimal bersikaplah biasa saja pada ku, jangan seolah-olah tak kenal, seolah-olah kita tak pernah memiliki kisah apa-apa. Bukankah kisah itu ada? Bahkan sampai sekarang kisah itu masih saja abadi. Hanya saja kisah itu sekarang bernama masa lalu.

Aku tak marah, sama sekali tak marah. Andai saja ada sedikit senyuman darinya, akan aku balas dengan tawa yang lebar. Aku tak lagi sedih, aku hanya bingung. Aku tak tahu harus bagaimana lagi menatapnya. Aku berusaha tak peduli, tapi selalu peduli. Ah!

Ingin sekali aku bertanya lagi, “Salahku apa?” tapi sepertinya dia sudah bosan dengan pertanyaan ini dan aku pun sudah bosan tidak mendapat jawaban.

Rabu, 11 Desember 2013

Tiba-tiba

TIBA-TIBA

Tugasku sungguh banyak. Menjelang UAS, seperti biasa kami dituntut oleh berbagai jenis tugas dari berbagai jenis mata kuliah dan dari berbagai jenis dosen yang sangat hobi memberi tugas tiba-tiba. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri semua tugas-tugas yang sudah menumpuk ini dan segera merebahkan diri di atas kasur yang selalu menjadi sahabat sejatiku. Pikiranku dipenuhi dengan kata tugas, tugas dan tugas, tapi bukan hanya ini yang meyibukkanku sekarang.

Bayangkan, di tengah-tengah proses penyelesaian tugas yang sungguh melelahkan ini, tiba-tiba hatiku merayu pikiranku untuk memikirkan ini semuahal yang sebenarnya tidak perlu aku pikirkan. Akhirnya pikiranku ikut membujuk tanganku agar mau membantu menuliskan kolaborasi antara apa yang hatiku sedang rasakan dengan apa yang otakku sedang pikirkan. Maka, terjadilah tulisan initulisan yang aku harap akan dibaca oleh yang tepat.

Bukan satu atau dua kali aku terlibat dalam hubungan dua insan yang sedang merasakan ajaibnya perasaan kasih sayang─boleh jadi itu disebut cinta. Sayangnya, aku belum pernah benar-benar menjadi tokoh utama dalam kisah-kisah seperti ini─aku sedang membicarakan jenis kisah yang serius, bukan jenis kisah jaman ABG. Tapi, sungguh, baru kali ini aku ikut merasa bingung yang teramat sangat melihat kisah dua orang ini. Bahkan karena terlalu bingung aku sampai melakukan hal yang aku sebut konyol─menulis sebuah tulisan di tengah-tengah kesibukan membuat tugas. Tidak hanya bingung, dalam beberapa waktu entah mengapa tiba-tiba aku merasa sedih bila mengingat sang wanita dalam kisah ini.

Perlukah aku ceritakan bagaimana kisah mereka? Sepertinya bila aku ceritakan pun kalian tak akan mengerti perasaan bingung dan sedih yang aku rasakan ini. Karena mereka saja tak mengerti apa jenis hubungan yang mempersulit mereka itu, apa lagi aku yang hanya terlibat secuil dalam hubungan mereka, apa lagi kalian yang hanya mengetahui kisah ini lewat tulisanku. Mereka saja tak mengerti, begitu juga aku, pun kalian. Jadi, aku hanya akan berkeluhkesah disini. Tak akan ada cerita dalam tulisan ini, hanya keluhan, ungkapan perasaan, boleh jadi hanya akan ada pertanyaan besar. Jadi, pertimbangkanlah lagi sebelum kalian membaca lebih jauh tulisanku ini, karena disini kalian tak akan mendapat kisah menarik, lucu, apa lagi unik. Sekali lagi, tulisan ini hanya akan berisikan tentang aku dan pemikiranku.

Menurutku, sebuah kisah tidaklah harus dijadikan rumit walau juga bukan berarti semuanya bisa disederhanakan sesuka hati. Aku hanya merasa kesal bila ada hal yang sebenarnya bisa diungkapkan namun tak pernah diungkapkan hingga menjadikan semuanya rumit. Masalah perasaan─terutama bagi seorang wanita─adalah urusan yang sensitif. Sedikit saja tersentuh langsung berdampak ke berbagai aspek hidupnya. Tidak gampang bagi seorang wanita mempercayakan hatinya pada seorang pria, hanya dari kisah yang aku lihat, begitu gampang pria ini mengacuhkan perasaan seorang wanita. Aku kesal, benar-benar kesal dengan jenis pria seperti ini.

Diam? Pasrah? Berserah? Ah! Ini hal yang paling aneh menurutku dari kisah ini. Pria ini sungguh lucu, tak punya pendirian! Tak jelas apa maunya! Tidakkah dia berpikir kalau ada seseorang yang sedang menanti kepastian dari dirinya. Rasanya ingin sekali teriak keras-keras di telinganya, “WOI BANG, KOMUNIKASIKANLAH KE KAKAK ITU. JANGAN DIAM-DIAM AJA!”

Ah..rasanya akan lega bila sudah teriak di depan pria ini seperti itu. Aku masih tak mengerti mengapa orang ini lebih memilih diam walaupun dia sudah menjelaskan berkali-kali padaku. Menurutku, diam bukanlah solusi yang terbaik. Sungguh, tak sabar rasanya melihat orang yang hanya diam seperti ini. Tindakan! Dimana-mana semua orang butuh tindakan! Sampai kapan mau diam? Sampai ada waktu yang tepat? Ah! Kapan waktu yang tepat itu? Saat wanita itu sudah pergi? Ah! Ah! Sungguh kesal dibuatnya.

Apa aku yang kurang mengerti keadaan mereka? Entahlah! Yang pasti aku sangat membenci orang yang hanya memilih diam. Siapa bilang diam itu emas? Diam itu sama artinya dengan tak menyelesaikan apa-apa. Tiba-tiba emosiku naik berkali-kali lipat melihat kisah ini. Pada hal aku hanya penonton dalam kisah ini. Mungkin karena aku terlalu menjiwai kisah ini. Atau mungkin karena aku terlalu ingin belajar dari kisah ini. Entahlah.



Rabu, 25 September 2013

Meronta!



Jangan cabik lagi batin ini!
Aku ingin keluar dan mengakhiri
Kalian memang tidak pernah menahanku
Tapi pasungan itu tak pernah kalian lepaskan dariku
Kalian hanya bisa menuntut
Menuntut kesempurnaanku
Menuntut kelebihanku
Menuntut pengertianku
Tapi aku tak pernah bisa menuntut hal-hal menjengkelkan itu pada kalian
Kalian sebut ini wajar
Lucu sekali ketika wajar hampir mirip dengan ketidak adilan
Membuatku Ingin sekali menghajar
Aku teriakkan kata lelah pun, kalian takkan mendengar
Tanpa sadar air mata membuat semuanya semakin wajar

Selasa, 20 Agustus 2013

Malaikatku


Malaikatku...

Baru dua hari aku kembali menjalani aktivitas sebagai seorang mahasiswa tapi rasanya sungguh ingin kembali ke rumah, ingin memeluk malaikatku lagi. Ditengah-tengah kebisingan ini aku masih saja merasa sepi. Terkadang aku berpikir, “Ah, betapa manjanya aku.” Tapi sekarang aku tak mengapa disebut manja asal aku bisa bertemu malaikatku.

Aku benar-benar merindukannya. Rindu tangannya, rindu senyumnya, rindu omelannya, rindu semua yang ada padanya. Rasanya aku tak bisa apa-apa tanpanya. Aku rindu. Sungguh aku rindu malaikatku.


Senin, 19 Agustus 2013

Cara Dihidupku Belum Tentu Berhasil Dihidupmu


Selama liburan ini banyak pengalaman yang aku terima. Mulai dari yang pahit sampai pengalaman yang menyenangkan. Mulai dari kecelakaan yang menyebabkan kakiku harus di beri gips sampai pada perkenalan menyenangkan dengan orang-orang baru dihidupku. Satu hal yang cukup menarik, aku bertemu seseorang yang berbicara cukup panjang (O..O)

Seorang alumni USU jurusan Antropologi. Sejujurnya jurusan ini adalah salah satu jurusan yang sempat aku remehkan kala di bangku sekolah dulu. “Mahasiswanya pasti orang-orang yang asal-asalan kuliah.” Setidaknya inilah pemikiranku dulu—tanpa bermaksud menyinggung kawan-kawan dari jurusan serupa, semata-mata hanya ingin berlaku jujur. Setelah resmi menjadi seorang mahasiswa aku memperhatikan kawan-kawan dari jurusan ini. Sedikit demi sedikit pemikiran tadi berubah setelah melihat eksistensi mereka di lingkungan kampus. Pemikiran tadi semakin berubah setelah bertemu orang ini.

Beberapa minggu yang lalu saat aku mencelupkan diri dalam satu perkumpulan bernama Naposo HKBP Bukittinggi. Disini aku bertemu orang-orang gila dengan suara besar dari segala penjuru. Benar-benar menyenangkan melihat mereka apa lagi saat ikut bergabung bersama mereka. Rasanya enggan bila harus berpisah cukup lama dengan mereka saat masa kuliah nanti dimulai.

Perkumpulan ini membawaku berbincang-bincang dengan seseorang yang ku sebut “anak medan”. Beberapa kali bediskusi aku semakin yakin bahwa ternyata mahasiswa jurusan Antropologi sama sekali berbeda dari apa yang aku bayangkan dulu. Awalnya mulai dari diskusi—sebenarnya lebih tepat disebut debat—mengenai adaptasi orang-orang Medan di wilayah Sumatera Barat. Dalam diskusi (debat) itu aku merasa kalah. “Sepertinya orang ini cukup menguasai bidangnya”, pikirku.

Dalam kesempatan yang berbeda kami masih melakukan diskusi kecil-kecilan. Hingga entah dari mana awalnya orang ini bercerita mengenai keluarganya. Bagian-bagian tertentu dari ceritanya mirip dengan apa yang aku alami. Semakin lama mendengar ia berbicara semakin membuatku berhasrat untuk bertanya. “Berarti aku harus merantau jauh-jauh dulu biar bisa ngadapin orang keras, gitu ya bang?” Satu kalimat yang aku ingat dari jawabanya atas pertanyaanku, “Cara dihidupku belum tentu berhasil dihidupmu.” Kalimat yang aku ingat hingga kini. Aku berpikir ada benarnya juga perkataan orang ini.

Hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu. Bagaimana mungkin aku selesaikan permasalahanku dengan caramu, kita pasti punya cara masing-masing. Namun, terkadang aku merasa berat dalam beberapa bagian di hidupku hingga aku sulit menemukan sebuah cara, di saat seperti ini aku membutuhkan pertolongan dari orang lain untuk meminjamkan “caranya”. Ketika suatu masalah yang menyerang bagian terdalam di hidupku, yang berlaku hanyalah sebuah emosi, tidak ada logika. Disaat seperti ini aku pikir setiap manusia boleh meminjam atau lebih tepat meniru cara orang lain.

Selain merubah pikiranku terhadap orang-orang antropologi, beliau juga sedikit merubah pikiranku tentang anak medan.



Rabu, 07 Agustus 2013

Ho do mata mual i di au


Malam ini ketika dingin begitu jelas menusuk tulang. Diluar sana terdengar bunyi petasan dan berbagai percikan kembang api. Orang-orang sibuk merayakan malam takbiran. Aku dengan sebuah selendang coklat berdiam diri di kamar. Senandung lagu batak yang ku putar berkali-kali ikut menemani.

“Betapa romantisnya isi lagu ini. Pastilah mereka yang sedang jatuh cinta sangat cocok untuk mendengarnya.”

Sebulan yang lalu saudara laki-lakiku baru saja melangsungkan pernikahannya. Istrinya adalah temanku waktu sekolah dulu. Pasangan muda yang sudah resmi dihadapan Tuhan ini sekarang tinggal di rumah bersama orang tuaku, bersama keluargaku, bersamaku.

“Ahh...sungguh iri melihat mereka berdua.”

Temanku itu atau yang sekarang ku sebut kakak ipar melayani suaminya dengan baik. Mereka bercengkrama, sungguh indah. Tiba-tiba aku terpikir sesuatu. “Andai dia masih bersamaku mungkin takkan seiri ini melihat mereka.”

Setahun lebih sudah ku lewati. Aku masih saja merindukannya. Seorang mahasiswa hukum yang keras kepala. Anak Medan yang berhasil mematahkan hatiku. Seorang pria yang masih ku anggap kekasih walau sudah bukan milikku.

Dorman manik dan Rani Simbolon - Ho do mata mual i di au

 Ho do mata mual i di ahu..
 Ho do sasude dingoluki..
 Unang tinggalhon ahu ito hasian
 Holan ho do na di rohaki..

 Ndang na boi be tarlupahon ahu..
 Denggan ni basa mi da hasian..
 Manang didia pe huingot do..
 Padan naung tapuduni..

 Reff :

 Holong roham tu ahu..
 Songoni do rohaki..
 Dangna muba dangna mose i..

 Tiop ma tanganhon..
 Tapagomos ma ito..
 Padan naung tapudun i..

Rival


Sore ini ketika jari-jari jahilku sibuk mengotak-atik berbagai hal dalam dunia maya hingga sampai pada halaman blog pribadiku. Setelah melihat berbagai postingan lama sambil sedikit tertawa geli tiba-tiba mata ini—yang juga jahil—menengok ke sudut kiri atas. Disana tertulis sebuah nama “Rindang Mulia Rahmah” —salah satu members dari blog-ku dan juga salah satu sahabat terbaik selama aku menjejaki bangku perkuliahan.

Si tangan jahil langsung dengan sigap meng-klik halaman blog sahabatku itu. Dalam sekejap aku berubah menjadi stalker. Pelan-pelan aku baca apa-apa saja yang telah ditulis olehnya. Gadis melankolis asal Padang Panjang itu ternyata telah memenuhi blog-nya dengan berbagai curahan hati. Belum puas melihat tulisannya dibulan terakhir, aku terus menjejaki blog-nya hingga sampai pada tulisannya di waktu-waktu lampau.

Saat membaca tulisan-tulisannya bisa aku bayangkan gadis pecinta warna merah ini pastilah sangat bersahabat dengan hatinya karena semua yang ia curahkan dalam tulisannya sangat penuh dengan perasaan. Aku ingin seperti itu. Bukan sekadar melankolis, tapi aku ingin menjadikan ke-melankolisan-ku sebagai sebuah karya, karya yang layak diketahui dunia.

Wahai sahabatku bila nanti kau membaca tulisan ini—entah kapan pun itu—ketahuilah dirimu senantiasa aku jadikan pendorong semangatku dalam menulis. Kau rivalku, rival yang aku sayang :’)
“Suatu saat nanti aku berharap bisa menulis bersamamu.”







Senin, 05 Agustus 2013

Menunggu...


Teringat saat perjalanan pulang dari Padang menuju Bukittinggi beberapa waktu lampau. Saat panas bukan lagi halangan, bahkan bis kota yang bising pun terasa damai. Rasanya rela menunggu berjam-jam waktu keberangkatan. Menunggu bukan lagi menjadi sesuatu yang membosankan karna waktu itu aku tak sendri.  Ahh..andai dulu lebih pintar mengungkapkannya.

Sampai sekarang aku masih melakukan hal yang sama "Menunggu!" Dalam diam aku menangis sendirian, ya aku menunggu sendirian. Bukan saja membosankan, menunggu berubah menjadi satu kata yang menakutkan. Kadang ku pikir aku telah sampai dalam satu rasa bernama “putus asa”. Aku merasa lelah dan mensyukuri bila memang benar aku telah berputus asa untuk menunggu. Namun aku menjumpai diriku begitu kuat hingga tak mampu menciutkan nyali untuk berhenti menunggu. Terlihat seperti aku sedang menyiksa diriku sendiri.

Tapi bukankah semua ada batasnya? Seharusnya semua memang memiliki batas, termasuk menunggu. Aku lelah. Aku lelah. Aku lelah. Aku pun ingin memulai kisah yang baru. Tapi kenapa semua kisah yang mencoba masuk dalam hidupku selalu dibayang-bayangi masa lalu? Aku bukan sedang menunggu angkutan yang terlambat datang menjemput penumpangnya. Aku menunggu sepasang tangan yang sangat aku rindukan. Bolehkah aku berhenti sekarang? Berhenti menunggu hal tak pasti seperti ini. Ku mohon pergilah dari pikiranku dan tolong doakan aku seperti aku selalu mendoakanmu agar bahagia dengan siapapun yang menggantikan aku.


Kamis, 25 Juli 2013

Hujan


Hujan.... Ijinkan aku memakaimu untuk melukiskan seperti apa dia. Kamu seperti hujan. Saat hujan sore ini turun aku seperti melihatmu. Bukan! Bukan hanya hujan sore ini yang mengingatkanku tentangmu. Hujan tampak seperti kamu tiap kali dia menyapa bumi lewat titik-titik airnya. Tahukah kamu hujan selalu begitu, datang kemudian pergi. Sebentar menyejukkan sebentar membiarkanku kering...meninggalkanku sendirian. Kamu selalu seperti itu. Menghampiri lalu melambaikan tangan tanpa perasaan bersalah. Diantara butiran hujan ku selipkan kata kecewa.




Rabu, 01 Mei 2013

Biar ku tuliskan semua ini, sekadar menghilangkan rinduku pada seseorang...


Kecewa...sudah hal yang biasa buatku. Namun, sekalipun itu hal yang biasa bagi seluruh orang di dunia, kecewa tetaplah kecewa. Kecewa tetaplah menyakitkan...

Sore itu, kala aku dikecewakan oleh  sesuatu yang menolakku. Ada seseorang datang dari masa lalu, begitu cepat hingga aku tak tahu bagaimana caranya dia muncul di hadapanku. Aku hanya tahu dia bukanlah seseorang yang aku harapkan, sama sekali bukanlah seseorang yang aku inginkan.

Bintang malam yang tertutup awan ditemani rintik hujan, begitu dingin. Dua orang berjalan bersama, entah apa yang mereka pikirkan. Mereka terus berjalan tak menghiraukan dingin yang semakin membalut tulang. Bukan suatu perbincangan yang penting, hanya saja mereka terus bercakap-cakap tak peduli kiri dan kanan.

Perjalanan panjang namun tak melelahkan. Entah keajaiban apa yang terjadi pada diriku waktu itu. Semua masalahku, keluh kesahku, sedihku bergangti menjadi ria. Aku bertemu sesuatu yang dulu ku benci, namun sekarang dia menjadi sesuatu yang ku namai bintang.

Bintang tetaplah bintang, selamanya dia akan berada di langit. Dia selalu berada jauh dan takkan bisa ku capai apa lagi ku miliki. Aku hanya bisa menatap dan cemburu pada langit yang selalu memiliki bintang. Ya...aku cemburu! Apa hebatnya langit? Dia memiliki banyak bintang, mengapa dia tak membiarkan aku memiliki satu bintang yang sekarang sedang ku rindukan? Aku pun bisa menjaga bintang itu, mengapa langit tak membiarkanku?

Aku dan keegoisanku kecewa pada bintang yang tak berbuat apa-apa terhadap langit. Aku ingin bintang menemuiku. Hanya dengan mengatakan tak pernah dia merindukan langit sudah cukup bagiku. Haruskah ku teriakkan inginku ini? Begitu jauh kah kita hingga kamu tak mengerti mauku?



Senin, 15 April 2013

Rahasia Bintang ^o^

Ku petik bintang untuk kau simpan
Cahayanya tenang berikan kau perlindungan
Sebagai pengingat teman dan juga sebagai jawaban semua tantangan
–Sheila on 7

Aku hanya seorang gadis pengagum bintang. Merasa bintang itu anggun dan tak pernah jemu aku memandangnya. Andai setiap malam dapat ku lihat sosoknya yang elok, andai setiap malam bisa ku raih dan ku taruh dia di dekatku, andai aku dan dia bisa selalu bergandengan di atas langit.

Suatu hari aku bertemu sebuah bintang. Terang namun tak menyilaukan dan tenang namun tak membosankan. Jelas bukan langitnya yang indah, kali ini bintang yang menjadi pemeran utama. Sebuah bahan sempurna untuk dirindukan, kamu bintang.

Tahukah kamu...aku menemukan sebuah bintang, harta karun yang akan ku jadikan rahasia.



Rabu, 10 April 2013

The Stoning of Soraya M




How can you do this to me?
I’m your neighbor...your mother...your daughter...your wife...
How can you do this to anybody?

“The Stoning of Soraya M”, sebuah film yang berkisah tentang seorang wanita—perasaannya, kesakitannya, amarahnya, ketegarannya, sedihnya, harga dirinya dan perjuangannya. Dia adalah wanita bagi negerinya, anak bagi ayahnya, istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya ketika hukuman itu harus menimpanya.

Banyak hal dalam film ini yang aku yakin dapat membuat kalian—para wanita bahkan laki-laki—meneteskan air mata. Tentu saja bukan hanya kesedihan, pelajaran moralnya yang menjadikan film ini serasa sempurna.

Diangkat dari kisah nyata, kehidupan seorang wanita negeri Iran. Cyrus Nowrasteh, sang sutradara berhasil membawaku masuk ke dalam sebuah perasaan yang entah bagaimana caraku untuk menamai perasaan itu. Aku dibuat marah, haru, benci, sakit dan masih banyak lagi. Hatiku seperti diaduk-aduk saat menyaksikan semua yang terjadi pada wanita ini.

Berkisah tentang Soraya, ibu 4 orang anak yang memiliki suami bejat. Berawal dari nafsu sang suami yang ingin menikahi seorang gadis 14 tahun sehingga membuatnya ingin mengakhiri perjalanan rumah tangga bersama Soraya. Pertama kali sang suami melakukan jalur persuasif, melalui Sheik Hassan, Soraya dibujuk agar menceraikan suaminya setelah itu menikah dengan dirinya. Namun Soraya menolak karena memikirkan nasib anak-anaknya nanti. Kehabisan akal, sang suami pun memutuskan untuk memfitnah Soraya melakukan zinah degan Hashem, seorang duda di negeri itu. Akhirnya Ebrahim, pimpinan adat mereka memutuskan untuk menghukum Soraya sesuai dengan ajaran Islam, yaitu hukum rajam.

Don't act like the hypocrite
Who thinks he can conceal his wiles
While loudly quoting the Koran
-Hafez, 14th Century Iranian Poet

Tidak bisa berbuat apa-apa, Soraya hanya mampu pasrah karena pembelaan yang dilakukannya sia-sia. Zahra, bibi Soraya telah berusaha sekuat mungkin agar Ebrahim membatalkan hukuman tersebut. Namun, mereka—suami Soraya dan Sheik Hassan—mengatasnamakan keadilan hukum dalam Islam sehingga Soraya memang harus dirajam.

Fim ini menyadarkanku tentang ketidakadilan, dimana seorang wanita sangat rentan untuk dinyatakan bersalah walau dengan pembuktian yang tidak kuat. Dosa—ditekankan pada zinah—adalah satu kata yang sangat sering dikaitkan dengan wanita. “Seorang pria tidak mungkin melakukan zinah bila bukan si wanita yang memulai”, setidaknya inilah bentuk pembelaan yang sering dilakukan orang-orang diluar sana.


Aku ingat betul saat suami Soraya memukulinya dijalanan sambil meneriaki Soraya dengan sebutan “perempuan jalang”. Tidak satupun diantara orang-orang itu—masyarakat yang menyaksikan—yang menolong atau hanya sekadar menghentikan perbuatan sang suami sampai akhirnya Zahra datang dan berusaha membawa Soraya pulang. Dihadapan Ebrahim, dengan sangat yakin Soraya membatah tuduhan zinah atas dirinya, namun tak satupun dari kata-kata Soraya yang dipercayai Ebrahim.

Ebrahim hanya mampu mempercayai segala fitnah tersebut karena Soraya tidak memiliki saksi untuk membuktikan dia tidak bersalah. Satu lagi pelajaran yang aku ambil dalam film ini, bahwa seorang pemimpin janganlah mengambil keputusan dengan hanya melihat apa lagi hanya mendengar sebuah kejadian. Dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin adalah perpanjangan tangan Tuhan sehingga keputusan itu mestinya diambil sesuai dengan apa yang Tuhan sampaikan padanya.

Dalam film ini, sebenarnya Ebrahim ragu akan keputusan yang telah di ambil. Saat Ebrahim benar-benar akan menjatuhkan hukuman rajam pada Soraya, dia berdoa, “Tuhan bila keputusan yang aku ambil ini salah, tolong beri aku pertanda.” Saat hukuman rajam itu akan berlangsung, sebenarnya Tuhan menjawab doa Ebrahim. Banyak pertanda untuknya, pertama, datang sebuah grup sirkus saat Soraya akan mulai dilempari batu. Kedua, saat ayah Soraya—orang yang pertama kali harus melemparkan batu pada Soraya—melemparkan batu ke arah Soraya, satu batu pun tidak ada yang mengenai Soraya. Sampai disini Ebrahim masih belum peka juga terhadap tanda yang Tuhan beri. Sampai akhirnya ad seorang wanita yang berbicara lantang, “Tidakkah kau lihat itu Ebrahim? Itu pertanda dari Tuhan bahwa Soraya tidak bersalah.” Namun Ebrahim tetap tidak mengacuhkan pertanda itu, ia terus mempertahankan keputusan yang diambilnya hanya melalui apa yang dilihat dan didengarnya tadi.

Hal seperti ini sering terjadi pada manusia. Saat dia meminta sesuatu pada Tuhan, sebenarnya Tuhan telah memberi apa yang manusia itu pinta, hanya saja manusialah yang sering tidak peka terhadap pemberian Tuhan.

Yang membuatku meneteskan air mata pertama kali dalam film ini adalah ketika Zahra berusaha mendamaikan hati Soraya yang sedang berhadapan dengan maut di depan mata. Aku ingat perkataan Soraya yang kira-kira begini, “Aku tidak akan menangis untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah.” Seorang wanita yang tegar dan kuat.

Saat Soraya akan delimpari oleh batu, aku seperti dibawa masuk kedalam kehidupannya. Film ini sungguh berhasil menguras emosiku. Tatapan mata Soraya seperti mengisyaratkan bahwa bukan kesakitan fisik yang sedang ia hadapi, tapi batinnya yang terluka. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak mempercayai anak perempuannya sendiri dan akan segera melemparkan batu pada anaknya. Bagaimana mungkin seorang suami memfitnah istrinya sendiri hanya demi menikahi gadis 14 tahun. Bagaimana mungkin anak laki-lakinya tega melihat maut yang akan menjemput ibu yang melahirkannya bahkan ia melibatkan diri dalam kematian itu. Tak bisa aku bayangkan perasaan seperti apa yang membunuh Soraya waktu itu.

Menurutku film ini bukan mengajarkan tentang ajaran suatu agama tertentu, film ini mengajarkan bagaimana manusia menyalahi ajaran agama dengan memanfaatkan ajaran itu demi kepentingannya. 

Kisah yang sangat menarik dan layak diketahui oleh dunia.





Senin, 08 April 2013

Cara Tuhan


Malam ini saya teringat sebuah film yang sebenarnya sudah lama saya tonton, berjudul “Nuh New York”. Kira-kira dalam film tersebut dikatakan begini, “Saat orang berdoa meminta kesabaran, apa Tuhan akan memberi mereka kesabaran atau memeberi mereka peluang untuk menjadi sabar?” Dari kata-kata ini saya berkesimpulan bahwa Tuhan tidak memberi sesuatu yang instan pada umat-Nya, Ia mau saya (kita) belajar dari cara-cara spesial yang Dia berikan.
Baru-baru ini saya berbincang-bincang dengan salah seorang kakak senior. Dari hasil perbincangan itu saya menjadi paham bahwa hanya orang lemah yang mengharapkan mujizat turun, tetapi orang yang kuat biasanya akan lebih menginginkan sebuah proses dalam mendapatkan suatu pencapaian yang dia mau. Tuhan tidak ingin saya (kita) menjadi manja, Dia ingin saya (kita) menjadi orang yang kuat dan tahan banting, karena itu Ia membiarkan kita menikmati proses dalam pencapaian keinginan kita.
Hal ini terasa betul dalam hidup saya pada saat sekarang ini. Dalam setiap doa saya selalu meminta agar Tuhan merombak karakter saya dan menjadikan saya orang yang dewasa. Selama ini saya adalah orang yang kekanak-kanakan, memiliki emosi yang kurang stabil dan sulit menjadi sabar. Namun sekarang saya diperhadapkan dengan seorang teman yang memiliki karakter hampir sama dengan yang saya miliki. Sehingga saat saya berhadapan dengan dia, saya merasa seperti sedang bercermin. 
Saya sungguh bersyukur dipertemukan dengan teman yang seperti ini. Karena melaui dia saya menjadi belajar memahami perasaan orang lain saat berhadapan dengan sifat buruk yang saya miliki selama ini. Melalui dia juga saya menjadi belajar untuk mengubah karakter saya sedikit demi sedikit ke arah yang lebih baik.
Saat kita berdoa meminta sesuatu, Tuhan memang tidak akan memberikan langsung secara gamblang. Tuhan ingin agar kita menikmati proses dalam meraih apa yang kita minta itu. :)

Minggu, 07 April 2013

Mati!


Bukan ragaku yang sakit tapi hati ini yang hampir mati
Rasa bingung ini kemana harus ku adukan?
Aku sendiri, merasa sendiri
Mereka ada tapi tak pernah tampak, tak pernah mengerti
Mereka hanya sebatas bayang-bayang yang selalu menuntutku menjadi sempurna
Aku hanya orang biasa yang tak mampu berpikir lebih dari ini
Aku butuh diajari bukan dimarahi
Bukan karena aku tak ingin mendengar mereka
Tapi hati ini sudah tak sanggup menampung tiap kata yang mereka hamburkan
Terkadang mereka muncul hanya sekadar untuk menjatuhkan
Dan saat aku butuh untuk dibangkitkan...
Mereka hilang!
Pergi saja!
Lebih baik aku sendiri!
Biarkan aku sendiri!


Sabtu, 06 April 2013

Tentang Kamu


Ada seseorang disini, kini sedang mengacak-acak hatiku
Bukan karena dia hebat bisa menemukan celah kosong di hati ini
Bukan karena dia memiliki sesuatu yang bisa membuat jantungku berdebar seperti saat bersamamu
Bukan karena dia hadir sebagai satu-satunya orang yang aku inginkan
Tapi karena kebetulan dia mempertemukanku dengan kenangan masa lalu saat bersamamu
Aku bersama dia tapi bukan tentang kami
Bagiku ini semua masih tentangmu
Ahh...apa salah dirinya sampai ku jadikan dia tempatku untuk melihat dirimu?
Andai saja dia adalah kamu